Experts’ Reviews
Agus Dermawan T.
Sunandar Agus adalah pelukis otodidak. Pendidikan tingginya ditempuh di akademi Bahasa Asing. Namun hasratnya untuk menjadi pelukis nampak mengalahkan segala ilmu yang ditemui di pendidikan formal. Itu sebabnya ia kemudian memilih tinggal di Bali sebagai pelukis sampai tahun 1976. Bahkan kemudian tinggal di Arab Saudi dan Kairo, Mesir untuk belajar kaligrafi dan mitologi Mesir Kuno, yang kemudian melanjutkan tinggal di Amsterdam, Belanda belajar seni rupa modern.
Dari dinamika muhibahnya yang ke mari dan ke sana, terbukti bahwa Sunandar adalah pelukis yang terus mencari. Ia pernah berada di terminal realisme; kemudian impresionisme. Ia tentu pernah mengerjakan seni kaligrafi Arab atau khat. Dan kini, seperti sebagian besar karyanya yang dipamerkan, ia berada di wilayah seni lukis yang bisa disebut esensialisme. Karena yang diketengahkan adalah garis-garis dan warna yang merupakan esensi dari bentuk-bentuk dan setting situasi yang ia hayati. Sebuah gaya dan pemikiran seni yang mengingatkan kita kepada suprematisme Kasjmir Malevich, yang dicetuskan lebih setengah abad lalu. Meski dalam presentasinya, terus terang, sejumlah lukisan Sunandar Agus lebih menggoda.
Lalu di bidang lukisannya kita diperkenalkan dengan lelaki menunggang kuda sambil menggendong pengantin, sepasang sejoli berdansa di bawah sinar bulan, wanita bermain gitar, seekor kucing dan lain-lain. Figur-figur itu disampaikan lewat garis yang rata dan tertib, impresif, dengan prinsip-prinsip memandang yang kubistik. Sementara latar belakangnya yang menawarkan setting ditampilkan dalam warna yang berlapis-lapis. Atas tampilan karya-karya Sunandar yang terakhir ini, tak keliru apabila kita menyebutnya dengan “esensialisme dekoratif“.
Marwan Yusuf
Lukisan Sunandar Agus adalah sebuah kehidupan, perenungan dan getaran dari semangat dan kecintannya untuk bereksperimen serta pencariannya di dunia seni lukis.
Kegiatannya itu adalah bagai sebuah eksplorasi subyek yang tidak habis-habisnya dilakukan oleh sang pelukis. Hal itu dengan jelas memperlihatkan kepada kita bahwa dia adalah salah satu pelukis yang jarang kita temukan akhir-akhir ini, dimana banyak seniman yang cepat berpuas diri dan hanya mengejar estetika belaka yang hanya mengacu kepada keinginan pasar dengan mengenyampingkan kejujuran berekspresi dan kesediaan untuk melakukan pencarian-pencarian pribadi, yang mungkin saja bertentangan dengan keinginan para embeli. Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh pelukis ini adalah pembentukan pribadi yang sangat diperlukan bagi seseorang yang berniat untuk menjadi seniman. Kekuatan karakter adalah tulang dari setiap karya yang dihasilkan oleh seniman kalangan ini.
Dalam upaya untuk menelusuri pengalaman plastis secara kontinu, terlihat ia berangkat dari sebuah pemahaman terhadap bentuk. Misalnya bisa kita lihat pada awal-awal perkembangan lukisannya yang mengarah ke figuratif. Disitu ia mengelus, mencermati, dan mengambil subyek tentang manusia. Sosok-sosok tersebut diolah sebagai media pengungkapan dalam menuturkan pengalaman estetisnya.
EMOSI
Di awal perkembangannya dia nampak berusaha menyelesaikan lukisan-lukisannya secara cepat. Oleh karena itu, pemakaian warna serta sapuan-sapuan spontan memenuhi bidang kanvasnya. Lukisan-lukisan semacam ini tentunya akan melahirkan karya yang memiliki kesegaran ekspresif dan keindahan accident yang lugas. Begitula ia seperti yang kita lihat dilukisan-lukisannya terdahulu, ia menggarap subyek dengan menghadirkan bentuk yang terlihat secara kasat mata. Disitu ia mencoba memahami kehidupan di sekitarnya khususnya manusia-manusia yang berada di sekelilingnya. Manusia-manusia tersebut adalah sosok-sosok wanita desa yang nampak bersahaja. Hal ini boleh jadi karena ia berasumsi wanita ideal buat sang pelukis adalah mereka dari kalangan yang masih belum tersenuth oleh kebiasaan wanita kota yang pada umumnya cenderung memanipulasi dirinya dengan nilai-nilai kebendaan. Kebersahajaan adalah sesuatu yang bernilai bagi sang pelukis.
Wanita-wanita seperti itu ibarat oasis bagi sebagian pelukis tempat mereka berteduh dan melepaskan dahaga serta menjadi sumber kehidupan yang diharapkan melahirkan keturunan yang tidak terkontaminasi oleh sisi buruk perkembangan jaman.
Sunandar Agus tidak secara kebetulan menjadikan sosok wanita sebagai sumber inspirasinya untuk menggali feminitas rural menjadi sebuah nilai di dalam mempresntasikan bahasa uangkapnya d awal-awal pencarian diri. Sosok wanita ini kemudian berlanjut dengan gambaran seorang anak yang sedang bermain atau digendong oleh ibunya. Bisa dibayangkan dan kita semua tahu bagaimana hubungan dan keberadaan seorang anak bagi sang ibu. Kedekatan dan kemesraan yang berlangsung diantara kedua manusia itu direkam dan divisualisasikan oleh sang pelukis. Perasaan sang ibu dilukiskan secara cermat, namun jauh lebih dalam dari yang terlihat dalam lukisan tersebut, sesungguhnya sang pelukis sedang bercerita tentang kasih sayang, kelembutan dan cinta.
Bukan mustahil pelukis ini sedang merefleksikan perasaannya sebagai seorang ayah. Ia sebagai observator yang baik dan sekaligus ingin menyampaikan peransaanya di tengah kehidupan keluarganya sehari-hari. Kebahagiaan yang dialaminya ini yang ingin dibagikan kepada orang-orang melalui karya-karyanya.
Nampaknya ada kerinduan masa lalu yang melekat disadari atau tidak muncul dalam bentuk gambaran anak dan ibu. Bunga dan daun-daun menyertai pelukisan yang menggambarkan kegembiraan dan kewajaran itu. Perkembangan imajinatif dari semua unsur yang terdapat di dalam lukisan, Sunandar Agus membuat suasana yang terbangun terasa harmonis.
GARIS
Dalam perjalanan waktu, perkembangan lukisan bergeser pelan-pelan kepada penyederhanaan bentuk. Kemungkinan ini diperoleh dengan meningkatnya usia di mana kearifan dan kesabaran semakin bertambah. Pengerjaan bentuk yang semula sangat figuratif dan representatif berubah menjadi indikatif. Pengerjaan detail menjadi berkurang dan luapan emosi dangat terkendali serta dekor dan benda-benda lain menghilang dari lukisan. Yang ada hanya bentuk seperlunya saja dengan pengerjaan yang menghindarkan dan mengenyampingkan kepersisan bentuk. Ada terlihat kematangan dalam melihat dan memaknai penyajian bentuk. Bahasa isyarat saja sudah cukup mampu untuk menyampaikan pesan.
Perbedaan itu bisa kita saksikan jika kita bandingkan antara karya-karyanya terdahulu yang kental dengan gejolak emosi dangan karya-karyanya belakangan ini. Emosi pelukis dalam lukisan yang terdahulu nampak sangat bergejolak, spontan dan liar. Sapuan-sapuan cepat berlari ke sana ke mari serta warna yang beraneka ragam. Warna-warna hangat berperan sangat dominan diselang-selingi gans yang bergerak melingkar dan diagonal. Periode ini sifatnya sementara karena pada perjalanan berikutnya ia beranggapan hal ini hanya bersifat kulit saja.
Sunandar Agus memang berawal dari membuka kulit tersebut untuk bisa masuk ke dalam misteri seni rupa dengan apa yang sering disebutkan orang masuk menukik esensi. Dan emang pada akhirnya ia menemukan hal itu yang buat banyak pelukis masih terus dalam pencarian diri dan makna yang terkadang tidak mudah untuk diperoleh. Lukisan yang mengarah ke citra ini bisa dilihat dengan penggunaan flatness menggantikan ruang ilusi. Garis dijadikan indikator bentuk untuk menyampaikan fikiran dan perasaan pelukis. Siku yang runcing dan spiral hadir bersamaan padat dan kosong, terang dan gelap menghiasi lukisan.
SIMBOL
Perkembangan lukisan-lukisannya yang sekarang, merupakan simbol-simbol dari kehidupan alam semesta dimana keseimbangan dan keharmonisan menjadi sesuatu yang tidak konfliktual serta eksis secara damai. Begitulah pada akhirnya Sunandar Agus tidak lagi berbicara mengenai keindahan bentuk tetapi sudah lebih jauh dari sekedar itu yakni membicarakan alam semesta. Dengan itu ia tidak melihat sebuah karya indah hanya secara kasat mata, tetapi juga indah secara spiritual. Ketika ia ingin berbicara tentang alam semesta misalnya ia cukup mengambil beberapa unsur-unsur yang berada di alam, seperti kucing, ikan, kambing dan juga bentuk-bentuk yang rotatif serta titik saja. Dengan itu ia membangun semesta yang berbicara tentang kebahagiaan, kasih sayang, reproduksi serta kejenakaan.
Hidup ini buat sang pelukis adalah sesuatu yang menyenangkan. Disinilah sang seniman telah mampu membebaskan dirinya dari penjajahan bentuk serta tekanan imajinasi yang buat dia bisa direka secara bebas dan diambil dari hal-hal yang bersahaja. Pada tataran ini dia tidak mempunyai kendala dan masih membuka kemungkinan pada penemuan-penemuan lain yang menjadi miliknya. Cara ia mendeformasi bentuk bukanlah hal yang sulit. Pelan-pelan ia berpegang pada kekuatan garis sebagai kekuatan ungkapan ekspresi. Ia telah meninggalkan penggambaran ilusi dan massa. Mewakilkannya kepada tulisan yang dalam hal ini adalah garis. Seakan-akan sebuah tulisan yang membentuk imaji. Karyanya mendekati kaligrafi atau tulisan indah yang menari dan melantunkan irama, walau non alfabetis. Kembali kepada pemaknaan yang menempatkan simbol-simbol sebagai struktur berfikir dan berasa. Kedekatannya dengan alam dan lingkungannya menjadikan ia sebagai guru sudah terlihat ketika ia memilih untuk tinggal di dekat pegunungan. Sebab itu kehadiran angin dan udara sejuk serta kesederhanaan dan kehadiran, tumbuh-tumbuhan seperti daun, air, ikan, disadari atau tidak seringkali hadir dilukisannya. Keberadaan benda-benda yang bukan buatan pabrik, tapi hasil dari tangan-tangan terampil orang-orang desa menghiasi ruang studionya.
Karyanya tidak lagi dibatasi oleh masalah bentuk. Garis sudah berbicara bersama warna. Tidak diperlukan bentuk yang kompleks ia percaya ungkapan yang sederhana bisa berbicara lebih banyak dan menyenangkan. Seni adalah sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat. Memang kalau kita menyaksikan karya pelukis ini sepertinya bisa dikerjakan dengan mudah, itu adalah sebuah pendapat yang keliru.
Keberhasilannya memperoleh semua itu semata-mata melalui proses pencarian yang sudah dijalaninya secara konsisten selama bertahun-tahun dengan tidak kenal lelah dan buahnya adalah kematangan dan kepekaan dalam memahami dunia seni rupa. Menyaksikan karya-karya Sunandar Agus kita diajak untuk masuk ke dalam dunianya yang sejuk dan sangat human serta kecintaan terhadap sesama dan alam. Perenungan inilah yang ditawarkan beliau kepada siapa saja yang berada di depan lukisannya. Ia seorang seniman soliter dan lebih percaya kepada kejujuran berekspresi dan integritas sebagai perupa. Hal lain mungkin tidak lagi banyak mempengaruhi perjalanan seni lukisnya. Ia tidak didikte oleh hal-hal yang berurusan dengan ruang kreatifitasnya kecuali oleh kebenaran yang diyakininya.
Sosoknya sendiri pun telah banyak menimba pengalaman dari berbagai tempat di berbagai belahan bumi ini. Cinta adalah semacam motor penggerak manakala ia mulai menyentuh kuas dan cat ketika berhadapan dengan kanvas kosong yang dibangun dengan rasa dan kepiawaian jari jemari.
Puguh Tjahjono
Selintas kita bisa mengingat dalam teori estetika seni rupa modern (modern art), bahwa keindahan bisa dicapai salah satunya tatkala sensor inderawi kita dirangsang oleh sesuatu yang berbeda, unsur yang berjarak, elemen yang kontras atau semacam nilai-nilai itu.
Sunandar Agus atau biasa saya sebut sebagai Kang Agus, saya kenal dan langsung terjalin dekat sejak 1995-an. Saat itu ia sedang mengalami “haru-biru”nya masa “membara”-nya transisi visual, kendati di depan rumahnya di Jl. Raya Cugenang Cianjur – Bandung itu, masih terpampang teraan: “Agus Sunandar, Fine Art Expressionist“. Kunjungan pertama saya, jauh sebelum rumah dan ruang studionya direnovasi senyaman dan seleluasa sekarang, telah menyaksikan secara langsung beberapa lukisannya terdahulu yang ia teguhkan sebagai ekspresionistis dan juga karya-karya barunya yang menurutnya adalah impuls yang akan ia kembangkan kemudian. Beberapa kanvas ekspresionisnya antara lain berupa figur masyarakat agraris transisional, romansa laki perempuan, kehidupan pantai, serta satu dua bertaferil lanscape. Tabiat perupaannya, sering menggunakan komposisi warna-warna tropikal yang menghujat, merah, hitam, kuning, biru indigo ataupun hijau toska. Adapun keynote tentang ekspresionisnya tersubstansi oleh brush stroke dengan mengkibaskan lebar pada bidang latar yang kalanya menyisakan bagian putih.
Warna hitam acap ditorehkannya sebagai garis kontur subyek tematiknya (figur), tergores dengan tenaga penuh nyaris tanpa keraguan, bahkan kadang mengusak/melabarak bagian yang barangkali justru diharapkan secara awami sebagai wilayah tanpa terganggu (kepala, bagian-bagian wajah dsb). Sosok subyek semacam tidak harus sejelas rabaan netra. Timpalan cahaya pun tidak selau ia tangkap sebagaimana pada impressionism style maupun realis yang menumpukan pada gradasi gelap terang, tua ke muda secara gradual, melainkan cukup membubuh kontradiksi warna yang lebih kuat. Karya-karya impresionisnya, yang mungkin dalam event ini dipamerkan tidak banyak yang saya lihat waktu itu.
Menikmati karya-karya terbarunya (sejak 1995-an) itu, jelas tertangkap sebuah visual reform yang ia lakukan “besar-besaran” bagi perjalanan kreatifnya sekaligus mengartikan kesimpulan-kesimpulan dari jurnal spiritual yang ia tuai dari sepanjang “kuil kehidupan”nya. Ekspresionis yang ia tempuh sebelumnya, dengan kekentalan warna tropis, yang bisa kuat diduga sebagai pengaruh ke pemukimannya di Bali, kegelisahan yang kompleks sebagai insan rantau sosok masih kemudaannya dengan sejumlah regangan psikologisnya atas pengorbanan yang harus dilakukan dalam konteks keluarga dan begitu sebaliknya, pengorbanan keluarga terhadapnya. Maka memasuki wilayah kreatifnya yang baru tersebut selain dapat tereja ikhwal lawatannya ke Mesir, perjumpaannya dengan piktograf, lintasan pikirannya atas apa yang dialami Picasso juga lawatan studinya ke negeri bunga tulip yang barangkali kenikmatan cuacanya tak jauh beda dengan Cianjur yang sejak tenang penuh keasrian; juga termaktub cerminan makin stabilnya mekanisme majemen psikologis dan yang paling ke depan adalah persepsi yang makin meneguhkan suatu keyakinan spiritual menanggapi dengan mantap apa misi dan visi hidupnya tentu juga dengan konteks horisontal dan vertikal.
Karya-karya visual transisi Kang Agus yang ia kembangkan saat ini adalah sebuah elang memasuki kurun “kebegawanan”. Sebuah penempatan diri pada wilayah makin sublimasinya respon spiritual. Lukisannya tenang, hemat dari berbagai regangan nyaris identik dengan wilayah pegunungan yang dimukimnya. Alam pegunungan bagi semiotika humanisme adalah leksikon yang memahamkan tentang topik-topik transendental. Pun wilayah yang tenang, sejuk, kondusif bukan bearti sebagai wilayah tanpa gairah, tanpa nyala, tanpa injeksi dinamika. Warna-warna sejuk halftone memang dominan pada karya-karyanya, namun diantara sejumlah kanvasnya banyak yang juga menandai akan aspek-aspek yang menunjukkan “api” dalam sosok kehidupan. Dan tanpa merefleksikannya secara verbal dalam lukisannya tentang alam pegunungan itu, Agus Sunandar mampu menebarkan spirit dan pesan transendentalnya dengan cara dan piktografik yang dimilikinya.


